BERBAGI

Jakarta, matanggaran.com (09-2019) – Bank syariah terbesar kedua di Indonesia yakni PT Bank Muamalat Indonesia Tbk,  dikabarkan membutuhkan suntikan modal hingga Rp 11 triliun untuk mencapai kebutuhan dasar permodalan.

Dalam riset sebuah sekuritas yang tersebar di pelaku pasar, bahwa sejumlah bank BUMN besar telah mengonfirmasi akan melakukan due diligence untuk menyuntikkan modal ke Muamalat.

Meskipun pernyataan tersebut telah dibantah oleh 3 bank BUMN, yakni PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), namun riset tersebut menyatakan kebutuhan modal untuk Muamalat cukup besar.

“Berdasarkan laporan keuangan terakhir dan mempertimbangkan semua keuangan yang mengalami penurunan nilai (non-performing dan restrukturisasi), kami perkiraan Bank Muamalat Indonesia mungkin membutuhkan ekuitas segar sebesar Rp 11 triliun (US$ 790 juta) untuk mencapai titik impas pada persyaratan modalnya (break even on its capital requirements),” tulis riset dari sekuritas swasta tersebut.

Bank syariah pertama di Indonesia memang sedang didera masalah permodalan setelah bertahun-tahun terkena pembiayaan bermasalah yang cukup besar. Bank ini telah mencoba 3 kali right issue sejak 2017, namun belum bisa terlaksana hingga saat ini.

Perhitungan kebutuhan modal Bank Muamalat, jauh lebih besar dibandingkan dengan rencana rights issue Bank Muamalat yang akan menerbitkan sebanyak 50,3% saham baru dengan nilainya setara Rp 2,2 triliun.

Sebelumnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menghitung kebutuhan modal Bank Muamalat bisa hingga Rp 8 triliun agar bank tersebut jadi kuat dan bagus.

Dilansir dari CNBC Indonesia, Komisaris Independen Bank Muamalat Iggi H. Achsien enggan mengomentari hal ini karena merupakan ranah jajaran direksi. Namun, Direktur Utama Bank Muamalat Achmad Kusna Permana pun tidak menjawab pertanyaan tersebut.

Sekretaris Perusahaan Bank Muamalat Hayunaji mengatakan pihaknya tidak pernah membicarakan tentang angka kebutuhan modal. Sementara riset Macquarie menghitung berdasarkan asumsi dan model mereka sendiri.

“Klarifikasi boleh ya. Kami tidak pernah ngomong tentang angka kebutuhan modal. Kalau Macquarie, mereka menghitung berdasarkan asumsi dan model mereka sendiri,” kata Hayunaji, Rabu (09/10/2019).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here