BERBAGI

Jakarta, matanggaran.com (14-08-2019) –Cianjur kian hari kian macet. Disadari atau tidak, diakui atau tidak. Dibandingkan beberapa tahun ke belakang, kemacetan kini sudah menjadi pemandangan yang ‘biasa’. Utamanya di sejumlah titik. Baik di wilayah perkotaan, maupun di jalur Ciranjang, jalur puncak atau jalur yang mengarah ke Sukabumi.

Puncaknya, jelang Idul Fitri lalu, kalau diingat, tak sedikit warga Cianjur yang beramai-ramai ‘mencurahkan’ keluh kesah terkait kemacetan di jalanan Kota Tauco ini. Satu-satunya media yang dianggap paling setia untuk mendengar keluh kesah itu adalah media sosial. Berbagai platform. Mulai dari Instagram, Facebook sampai aplikasi perpesanan Whatsapp.

Rata-rata, warga Cianjur mengungkap keheranannya. Cianjur yang dulu tak pernah macet, kini ternyata tambah macet. Apalagi jika di momen dan waktu tertentu. Bahkan saat itu, kemacetan bukan hanya terjadi saat pagi, siang atau sore hari. Tapi juga malam hari.

Bisa dimaklumi, karena memang beberapa hari jelang Hari Raya Idul Fitri, banyak warga yang beraktivitas. Mulai dari berbelanja untuk kebutuhan lebaran, sampai sekedar jalan-jalan. Warga yang salah? Tentu tidak. Lalu apa masalahnya?

Kami mencoba menelusuri penyebab yang memicu tambah macetnya Cianjur dengan membaginya ke dalam empat wilayah. Yakni, perkotaan, jalur Ciranjang, jalur Sukabumi dan jalur puncak.

Tim liputan ini menyisir keempat jalur tersebut untuk melihat dan mengetahui sendiri kondisi di lapangan. Ada sejumlah faktor diduga sebagai pemicu kemacetan di Cianjur.

Kota

Di wilayah perkotaan, sejumlah titik kemacetan terpantau terjadi sejak pagi hari. Semisal di Jalan Siliwangi (Pasar Domba), Jalan Hos Cokro Aminoto, Bundaran Tugu Lampu Gentur, Jalan Prof Moch Yamin, Jalan Pangeran Hidayatullah.

Selain itu, titik kemacetan juga terjadi di perempatan Jalan KH Abdullah Bin Nuh, perempatan Bojong di Jalan Raya Bandung, Jalan Masjid Agung, Terminal Bayangan di Jalan Raya Bandung, Jalan Dr Muwardi (Bypass) dan Jalan Otto Iskandar Dinata II.

Di Bypass misalnya, parkir dan keluar-masuk kendaraan roda empat di sejumlah sekolah yang berada tepat di sisi jalan tersebut cukup menumpuk. Saking banyaknya mobil, sampai parkir pun memakan badan jalan.

Tak heran, setiap pukul 08.00 WIB dan pukul 12.00 WIB, sering terjadi antrian kendaraan di Bypass. Imbasnya, ekor kemacetan pun terjadi di di sekitaran Tugu Lampu Gentur, Selakopi dan Panembong.

Ditambah, ada terminal bayangan di sekitaran Asten yang tentu makin mempersempit jalan yang sekaligus menghambat laju kendaraan.

Pemandangan yang sama juga terjadi di Jalan KH Abdullah Bin Nuh. Kendaraan yang mengantar jemput serta kendaraan yang memutar balik menjadi penyebab menumpuknya kendaraan. Ditambah, perempatan Belka yang menjadi titik temu kendaraan dari empat arah.

Khusus untuk hari Kamis, kemacetan luar biasa terjadi di Jalan Otto Iskandar Dinata II (Suge). Penyebabnya, tidak lain adalah pasar Kamisan. Para pedagang tumpah di sisi jalan. Itu masih ditambah dengan parkir kendaraan roda empat di salah satu sisi jalan.

Tak hanya itu, angkot yang mengais rejeki dari para penumpang pun tak segan untuk berhenti di sisi jalan. Tak peduli kemacetan di belakangnya. Kondisi tersebut membawa imbas kemacetan pula di Jalan Suroso yang memberikan pengaruh kemacetan sampai di kawasan Warujajar. Utamanya di perempatan.

Kemacetan lain bisa dilihat lantaran adanya terminal bayangan di beberapa titik. Semisal di Jalan Raya Bandung (Depan Dishub Cianjur), Pasar Muka dan Jalan Ir H Djuanda (Panembong). Bukan hanya terminal bayangan, nyatanya ada beberapa kendaraan pribadi yang memarkirkan kendaraannya di tengah jalan seperti yang terlihat di Pasar Muka Cianjur.

Seakan sudah menjadi kebiasaan, pemilik kendaraan mobil pun dengan santai dan tak berpikir akan menjadi sumber kemacetan. Bahkan tak terlihat adanya teguran maupun tindakan yang diberikan kepada pemilik kendaraan oleh petugas. Sungguh ironis. Nyata terlihat namun dibiarkan begitu saja.

Di satu sisi, bongkar muat kendaraan terkadang sering dilakukan di Jalan Dr Muwardi atau Bypass. Bukan truk kecil, melainkan truk besar yang memarkirkan kendaraannya hingga beberapa pengendara harus mengantri terlebih dahulu.

Sementara untuk di Jalan Hos Cokroaminoto tak jauh beda dengan jalan lainnya. Tempat parkir yang berada di salah satu sisi jalan membuat jalan semakin menyempit, setelah sebelumnya jalan ‘dimakan’ untuk pembangunan trotoar dan taman.

Itu juga masih ditambah dengan perilaku pengendara kendaraan roda empat yang kadang masih saja nekad berhenti hingga membuat kondisi semakin macet dan ruwet. Urusan pengendara lain yang jalannya terhalangi, menjadi nomor sekian.

Jalur Sukabumi

Hal yang tak jauh berbeda juga terjadi di jalur yang mengarah ke Sukabumi. Terpantau, jumlah kendaraan mengalami peningkatan sejak pukul 05.30 setiap harinya. Hal ini masih ditambah dengan adanya galian kabel optic di bahu jalan yang berdampak pada kemacetan di sepanjang jalur tersbeut.

Kondisi tersebut masih ditambah dengan keberadaan terminal bayangan di perempaatan Rancagoong, perempatan Warungkondang dan simpang Gekbrong. Selain itu, juga jalur tersebut menjadi jalur pilihan kendaraan-kendraan besar.

Kemacetan juga terpantau terjadi di perbatasan Cianjur-Sukabumi yang bertepatan dengan aktivitas sejumlah pabrik di kawasan tersebut. Ditambah, kegiatan masyarakat yang tak jarang ikut memakan badan jalan.

Sementara itu, malam jelang weekend (hari libur) di ruas jalan Raya Cianjur-Sukabumi juga tak kalah mengalami kepadatan kendaraan. Beberapa titik yang mengalami kepadatan kendaraan, mulai dari perempatan Warungkondang, Simpang BTN Bumi Mas, Simpang Rancagoong dan perempatan Rancagoong.

Pantauan di lokasi, kemacetan di perempatan Rancagoong yang terjadi hampir sepanjang satu kilometer mengakibatkan sejumlah kendaraan roda empat dari berbagai jenis diantaranya, truk, kendaraan pribadi, angkutan umum, dan bus harus memperlambat lajunya.

Bagaimanapun, perilaku para pengandara dan penggunda jalan juga cukup berpengaruh. Bukan saja angkutan umum. Tapi juga keberadaan ‘pengatur lalu lintas’ di sejumlah persimpangan.

Jalur Ciranjang

Selain Cianjur Kota, jalur Ciranjang juga menjadi salah satu wilayah Cianjur timur yang berpredikat kemacetan cukup parah. Kondisi tersebut dikarenakan terdapat empat pabrik besar dengan jumlah karyawan yang juga cukup banyak.

Tak heran, setiap pagi dan sore hari kemacetan mengekor panjang. Hal tersebut dikarenakan angkutan umum serta pengantar karyawan yang membeludak di sekitar pabrik. Kemacetan terjadi pada hari kerja dari mulai Senin hingga Jumat antara pukul 6.30 WIB hingga 21.00 WIB.

Bukan hanya angkutan umum dan kendaraan pengantar karyawan pabrik. Kendaraan besar seperti truk kontainer dan bus pun menjadi penghias kemacetan. Selain itu, kesadaran masyarakat dalam keselamatan berlalulintas pun terhitung rendah.

Seperti pada di pertigaan Sukaluyu, beberapa masyarakat dan pengendara roda dua menyebrang tanpa memperhatikan kendaraan yang melintas. Selain membahayakan, hal tersebut manjadikan beberapa kendaraan harus berhenti.

Dari pantuan di lapangan, setidaknya ada 20 pertigaan atau perempatan yang menjadi salah satu penyumbang kemacetan. Kendaraan yang menyebrang serta keluar masuk tersebut menjadi titik macet di Jalan Raya Bandung menuju Ciranjang.

Di akhir pekan tidak menjanjikan jalanan akan lancar. Nyatanya kemacetan akan terjadi pada pukul 13.00 WIB hingga 22.00 WIB. Untuk memperlancar arus lalulintas, ternyata pihak kepolisian beberapa kali melakukan sistem contra flow atau satu arah secara bergantian.

Untuk arah sebaliknya, titik kemacetan Pasar Ciranjang mengekor hingga SPBU Pasih Honje.

Jalur Puncak

Dari penelusuran, sejumlah titik kemacetan di kawasan puncak terjadi di Jalan Pacet menuju Cipanas, jalur pasar Cipanas, jalan Sindanglaya menuju RSUD Cimacan, pertigaan Hanjawar, dan jalan Ciloto menuju Puncak Bogor.

Berdasarkan pantauan di lapangan, kemacetan di jalur-jalur tersebut ditengarai akibat dari banyaknya kendaraan, sejumlah rumah makan yang ramai dengan tempat parkir yang kurang memadai dan lalu lalang pengunjung pasar.

Selain itu juga adanya terminal bayangan seperti di depan ruko-ruko pasar, hingga wisatawan domestik maupun mancanegara yang memilih liburan ke sejumlah objek wisata yang ada di wilayah Cipanas.

Contohnya saja kondisi jalan mulai dari pertigaan Pacet yang terdapat sejumlah rumah makan, deretan hotel-hotel berbintang dan melati, serta perempatan yang tanpa rambu-rambu lalulintas.

Apalagi depan tugu bubur ayam, terlihat kepadatan kendaraan yang akan melintas ke arah Beunying menuju Taman Bunga Nusantara, dan arah sebaliknya.

Berlanjut ke arah jalur istana Cipanas, depan pasar, pertigaan Sindnglaya, dan pertigaan Kebun Raya Cibodas yang tak lepas dari kepadatan dan kemacetan.

Apalagi ketika melihat di pertigaan Hanjawar. Banyak wisatawan domestik maupun Timur tengah yang selalu melewati jalur tersebut dengan menggunakan mobil rentalan. Kemacetan pun tidak bisa dielakkan.

Jangan ditanya lagi bagaimana kondisi saat hari libur. Dipastikan, kemacetan akan jauh lebih parah dan panjang. Terpantu, kemacetan sudah terlihat sejak sebelum Istana Cipanas sampai selepas puncak pass.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here