BERBAGI

Jakarta, matanggaran.com (15-01-2019) – Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM mencatat, prognosa investasi hilir migas di 2019 ini sebesar US$ 589,89 juta atau sebesar Rp 8,33 triliun.

Direktur Pembinaan Program Migas Ditjen Migas Kementerian ESDM Soerjaningsih menuturkan, prognosa investasi tersebut sesuai rencana kerja badan usaha hilir migas.

“Prognosa investasi hilir migas ini, dengan melihat forecasting data historis tahun 2003 – 2018, toleransi penyimpangan realisasi dari prognosa sebesar 5%,” ujar Soerjaningsih, di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (14/1/2019).

Adapun, merinci lebih jauh, investasi hilir terbesar di 2019 datang dari sektor pengolahan, yakni dari proyek kilang Pertamina, baik Grass Root Refinery (GRR) maupun Refinery Development Master Plan (RDMP).

Merinci lebih jauh, berikut daftar investasi hilir di proyek kilang Pertamina:

1. Grass Root Refinery (GRR), lokasi di Tuban, investasi US$ 105,5 juta
2. Pertamina Blue Sky Project, lokasi Cilacap, investasi US$ 49,5 juta
3. RDMP IV, lokasi di Cilacap, investasi US$ 117,5 juta
4. RDMP V, lokasi Balikpapan, investasi US$ 234,5 juta
5. RDMP VI, lokasi di Balongan, investasi US$ 12,25 juta

Selain prognosa investasi hilir migas, Soerjaningsih juga menyebutkan, prognosa investasi di infrastruktur migas dalam APBN, yakni pembangunan jaringan gas (jargas), konversi BBM, dan kajian FEED-DEDC untuk pembangunan jargas.

Untuk 2019, diketahui anggaran untuk pembangunan jargas untuk Rumah Tangga di 18 Lokasi (78.216 SR) tercatat sebesar Rp 852,48 miliar.

Sedangkan, anggaran untuk Konversi BBM ke BBG untuk nelayan di 35 lokasi sebanyak 13.305 paket, sebesar Rp 111,27 miliar. Anggaran untuk konversi BBM ke BBG untuk Petani di 5 Lokasi sebanyak 1.000 paket tercatat sebesar Rp 8,12 miliar.

“Yang terakhir, anggaran untuk kajian FEED-DEDC pembangunan jargas di 15 lokasi tercatat sebesar Rp 1,58 miliar,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here