BERBAGI

Jakarta, Matanggaran.com (27-05-2018) – “Pertanyaan di atas menjadi penting dibahas ketika Ketua Serikat Pekerja Pertagas berasumsi bahwa proses integrasi Pertagas ke PGN adalah bagian dari upaya pelemahan bisnis gas Pertamina. Bahkan, terlalu prematur ketika ada pendapat seolah-olah ada potensi korupsinya,” tutur Yusri Usman, Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI), Minggu (27/05/2018).

Yusri mengatakan, seharusnya dipahami dalam perspektif peraturan dan UU bahwa PGN statusnya BUMN, dan ada saham Seri A Dwiwarna yang dimiliki oleh Negara. Walaupun hanya satu lembar saham, tetapi saham Dwiwarna mempunyai kendali yang absolut dan istimewa. Yaitu meliputi persetujuan perubahan Anggaran Dasar, perubahan permodalan, persetujuan pengangkatan dan pemberhentian anggota Direksi dan Dewan Komisaris, termasuk persetujuan terkait penggabungan, peleburan, pengambilalihan, pemisahan, dan pembubaran perusahan.

“Termasuk persetujuan pindahan aset yang berdasarkan anggaran dasar perlu persetujuan RUPS,” lanjutnya.

Pertanyaan berikutnya menurut Yusri adalah, “Apakah Integrasi Pertagas ke PGN akan menguntungkan “Public Investor”? Karena mereka tidak perlu membiayai dan mendapat bagian keuntungan Pertagas sebesar 43% secara cuma-cuma.”

Sudah tentu PGN akan melakukan “right issue” saham baru untuk membiayai integrasi Pertagas ke PGN, lanjut Yusri, sehingga melalui “right issue” ini maka “Public Investors” harus menyetor dana sesuai bagiannya, untuk mendapatkan saham baru tersebut. Apabila tidak menyetor dana tersebut, maka sahamnya akan berkurang dan tambahan saham baru PGN untuk menguasai Pertagas akan dikuasai sepenuhnya oleh Pertamina. Sehingga akan meningkatkan saham kepemilikan Pertamina di PGN.

Terkait pertanyaan “Kenapa Pertagas harus diintegrasikan ke PGN dan mengapa tidak dilakukan sinergi saja tanpa integrasi”, menurut Yusri harus dipahami bahwa Pertagas dan PGN memiliki bisnis yang sama yaitu gas sourcing, transmisi, distribusi, dan retail.

“Apabila hanya disinergikan tanpa integrasi maka akan tetap terjadi duplikasi dan kompetisi internal yang akan menghambat sinergi di antara keduanya dan “value creation” untuk Pertamina tidak akan optimal. Hal ini seperti terjadi pada pelaksanaan bisnis upstream dan downstream services saat ini di Pertamina,” papar Yusri.

Menurut Yusri, dengan integrasi Pertagas ke PGN, maka PGN sebagai manajer atas pengoperasian seluruh aset dan bisnis yang dimiliki oleh PGN dan Pertagas akan memiliki tanggung jawab untuk mengoptimalkan penggunaan semua aset tersebut dan meningkatkan semua bisnis yang dikelolanya termasuk aset dan bisnis Pertagas.

Yusri melontarkan pertanyaan akhir sebagai penutup, “Mengapa integrasi Pertagas ke PGN harus dilakukan sekarang?”

“Dengan semakin cepat integrasi tersebut dilakukan, maka “value creation” yang optimal untuk bisnis gas Pertamina akan semakin cepat terealisasikan,” lanjut Yusri.

“Apakah bisnis Pertagas akan semakin mengecil dengan adanya integrasi Pertagas ke PGN?” tanya Yusri lagi.

Dalam pandangan Yusri Usman, bisnis utama Pertagas di bidang transmisi gas akan semakin membesar karena Pertagas dapat ditunjuk sebagai operator untuk semua fasilitas transmisi Pertagas dan PGN. Serta akan ditugaskan untuk pembangunan fasilitas transmisi baru ke depannya. Di samping itu, pertagas niaga dan AP PGN di bidang distribusi dan ritel akan dapat bekerja sama untuk merebut pasar gas yang dimiliki oleh swasta dan untuk pengembangan pasar gas baru ke depan.

Terkait pertanyaan apakah dengan integrasi Pertagas ke PGN maka Pertamina akan kehilangan kendali atas PGN? Jawabannya menurut Yusri adalah, dengan perubahan anggaran dasar, PGN dan surat kuasa yang diberikan kepada Pertamina oleh Kementerian BUMN, maka Pertamina masih mengendalikan penuh atas PGN. Sehingga semua tindakan PGN atas anak perusahaannya termasuk Pertagas harus mendapat persetujuan dari Pertamina.

“Lalu, kenapa harus berdemo dan mengancam? Jangan-jangan ada pihak yang takut kehilangan jabatan dan rezeki kalau integrasi Pertagas ke PGN terjadi? Padahal holding migas sudah terbentuk sejak 11 April 2018, PT Pertamina Persero sebagai induk holding migas dan PGN sebagai anggotanya,” tutup Yusri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here