BERBAGI

Keadaan Banten

Banten di abad 17 merupakan potret suatu kerajaan Islam besar yang menampilkan sisi lain sejarahnya yang memikat banyak saudagar asing, bersamaan dengan perkembangan Batavia yang semakin pesat sebagai pusat pemerintahan Kompeni Belanda ( govarnement of Holland compagne ). Titik awal kebijakan kesultanan yang berorientasi pembangunan kekuatan maritim dan politik ketahan pangan sebenarnya telah dirintis oleh Sultan Mafakhir Abdul Qodir Kenari, hingga pada puncaknya diteruskan oleh Sultan Ageng Tirtayasa ( Sultan Abul Fath Abdul Fatah ) di tahun 1659.

Dalam perkembangannya Kesultanan Banten telah menjadi titik tujuan utama para pedagang asing ( kompeni ) selain mereka ke Batavia. Di banyak hal Banten lebih diuntungkan, satu hal adalah karena Banten menjadi kawasan strategis sebagai pintu masuk jalur Nusantara atau ke Jawa. Hal yang lain adalah posisi Banten menjadi tujuan kepentingan dagang dengan kebijakan Sultan Banten yang tidak mengahambat dinamika perdagangan internasional akibat efek domino dari peristiwa Renaissance atau lebih dikenal jaman kebangkitan Eropa yang brepusat di Kota Florence Italy di abad 16

Kompeni Prancis di Banten

Adalah serombongan kapal dagang Prancis ( kompeni Prancis ) dengan Jung besar merek Vantour tiba di Banten tanggal 6 Juli 1671 dibawah pimpinan Francois Caron yang telah bertolak dari Port Louis Prancis sejak Maret 1670. Setibanya mereka di Banten disambut oleh seorang Syah Bandar yang kebetulan Tionghoa Muslim yakni Kiyai Ngabehi Kaytsu. Sambutan pada rombongan Kapal Prancis ( Vantour ) ini dibuat meriah sebagai salah satu sikap Sultan Ageng Tirtayasa yang punya watak egaliter dan berwawasan internasional. Diceritakan salah seorang pedagang Inggris yang sudah sejak lama tinggal di Banten memberi kesaksiannya atas sambutan Sultan Ageng yang luar biasa itu terhadap kedatangan mereka, ia adalah Francois Martin mengkisahkan lewat deskripsinya terkait itu, ia menceritakan “ arrifed here the heer caroone in great splendor having besides his guards of 20 souldiers drums and trumpets, a life guard cloathed in heralds coats “.

Diantara rombongan pedagang dari Prancis itu terdapat seorang bernama Jean Baptise Guilhen, kelak Francois Caron mendelegasikan pimpinan loji dagang Prancis ( Kompeni Prancis ) kepadanya, Guilhen seorang anak keturunan Borjuis Prancis di masa kekuasaan Raja Louis XIII yang lahir di kawasan Foix kota Tarascon, Prancis 1634. Pada usia 36 tahun J.B. Guilhen telah bergabung dengan Francois Caron untuk berdagang ke wilayah timur jauh, hingga melewati Tanjung Harapan, hinggga ke Surat.

Setibanya di Banten tahun 1671 Guilhen menjadi orang kedua setelah Francois Caron, ia sama sekali jauh lebih cerdik dan sangat menguasai perdagangan dan lobi politik ketimbang Caron. Setahun kemudian kompeni Prancis ditinggalkan Francois Caron dengan meninggalkan jejak pemberian kenang-kenangan kepada Sultan Ageng berupa sepucuk pistol cantik buatan Prancis. Caron memastikan Guilhen agar meneruskan misi utama yaitu gold, glory, gospel-nya dengan baik.

Pelayaran Francois Caron dan Jean Baptise Guilhen ke Banten dengan serta merta menyertakan seorang misionaris dari Ordo Jesuit bernama Pastur Simon, namun rupanya orang ini telah melakukan kesalahan fatal dengan membaptis pasangan zina, hingga akibatnya mendapat protes dari beberapa pedagang Prancis yang panatik. Mereka memprotes keputusan pastur yang dianggap sembrono tersebut dengan keluar dari markasnya di dekat kawasan Pacinan ( kini lebih dikenal kampung Dermayon dekat teluk Banten ) sambil membawa plakat keberatannya kepada Guilhen. 6 bulan kemudian setelah Pater Simon pergi ke Jepara karena merasa malu dan terkucil, Guilhen mendatangkan seorang misionaris lagi dari Ordo Fransiskan bernama Antonio De Jesu Fernandes yang sudah lama mukim di Maccao. Pastur ini sangat dikagumi dan dihormati oleh banyak kalangan terutama sekali oleh pedagang Prancis ( kompeni Prancis ).

Prahara di Banten

Tahun 1682 bagi Guilhen merupakan tahun yang sulit, ia deskripsikan sebagai tahun yang di dalamanya banyak berkecamuk perang dan intrik-intrik politik antar para ponggawa kesultanan dan para saudagar. Terutama terjadi dua kubu besar yang berhadap-hadapan yakni kubu Sultan Tua dan Sultan Anom. Kondisi ini bagi Guilhen seperti berada di Neraka, benar-benar mencekam dan membuat arus perdagangan menjadi stagnan dan menderita kerugian. Untuk melindungi komoditi dagangnya Guilhen memberi komando kepada pedagang Prancis lainya untuk sesegera menampung ke kapal Portugis San Antonio yang telah merapat di teluk Banten sejak Desember 1681, Guilhen mendapat izin dari Vicente Riberio De Souza seorang pemimpin kapal Portugis yang datang dari Goa. Maksud Guilhen jelas dengan insting pedagangnya ia berupaya lolos dari kebangkrutan akibat situasi Banten yang sangat mencekam.

Namun, sebelum niatnya untuk menyelamtkan aset dagang kompeni Prancis dengan memuat komoditinya tersebut di kapal Boa Ventura satu dari kapal besar milik Kompeni Inggris, kapal besar yang membawa harta dagang Guilhen ternyata ditahan di pantai Tengkurak ( Orang Belanda menulis Tencorra ), pantai ini berada di dekat Tirtayasa dan masuk wilayah Tanara. Kapal yang hendak berlayar ke Manila Philipina harus tertahan oleh pengikut setia Sultan Tua yang mencurigainya sebagai pendukung kekuatan Sultan Muda, kemudian Guilhen mengutus asistennya bernama Combal untuk bernegoisasi dengan orang-orang kepercayaan Sultan Tua tersebut. Combal mengajukan permohonan kepada mereka agar dilepaskan. Meski kemudian ia dilepas dengan hanya menerima uang tunai yang sedikit sebab komoditi itu diturunkan dan Guilhen mendapat kerugian besar setelah berdagang selama 10 tahun di Banten.

Ketika perang besar itu usai, Sultan Muda yang telah didukung kekuatan militer Batavia di bawah komando Cornelis Speelman, Isaac Saint Martin dan Hartsing telah memenangkan peperangan terebut hingga kemudian memancing nafsu monopoli dari VOC Belanda tumbuh kuat, sampai kewenangan Sultan Muda dibajak oleh kekuatan militer VOC Belanda yang sudah berkantor di Banten dekat Keraton Surosowan sejak 1682. Dengan tanpa berfikir panjang dan atas desakan VOC Belanda, Sultan Haji ( Sultan Muda ) menerapkan kebijakan baru untuk mengusir semua kompeni asing terutama sekali orang – orang Tionghoa yang sangat ia benci. Diantara kompeni yang harus terusir tersebut terdapatlah Guilhen selaku kepala kompeni Prancis yang sejak peperangan merasa kesulitan untuk bisa keluar dari Banten.

Pengusiran Kompeni

Bulan Mei tahun 1682 terjadilah pengusiran besar- besaran yang dilakukan Sultan Haji secara seporadis tanpa sedikitpun merasa rugi. Mereka akhirnya sampai ke Batavia, hingga kemudian berlayar ke Maccao, dan ke Surat dengan meninggalkan jejak yang menyakitkan. Tak terkeculai Guilhen bersama dengan orang-orang Prancis lainnya memutuskan pergi ke Batavia dengan kapal Vantour yang sejak 10 tahun bersandar di teluk Banten. Tahun 1684 Guilhen dengan kapal Vantour-nya tiba di Surat, kemudian memutuskan pulang kampung ke Tarascon hingga ia menetap di Lyon, salah satu kota besar Prancis masa itu.

Dari peristiwa itu bisa kita petik betapa kepentingan ekonomi ternyata lebih dasar dan lebih didahului daripada kepentingan politis, dan pemahaman yang bisa kita tangkap dari peistiwa tersebut juga adalah bahwa merosotnya otoritas kekuasaan bisa diakibtkan dari sikap inkonsistensi dan intoleransi terhadap kepercayaan agama yang diyakini banyak orang dan terdapatnya mindset ( cara pandang ) yang sempit terhadap proses akulturasi dan sistem perdagangan bebas, hingga masih kuatnya ego sektoral mengakibatkan “ kekerdilan “ dalam kekusaaan. Ujungnya kemudian Kesultanan Banten pasca kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa secara de facto ada dalam protektorat kekuasaan VOC Belanda ( jelasnya terjajah secara kekuasaan ) sampai berakhirnya Kesultanan Banten di tahun 1813.

Ditulis Oleh : M. Hamdan Suhaemi
Editor : Nisa M. Fauziah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here