BERBAGI

Jakarta, matanggaran com (12-08-2019) – Tumpahan minyak  pertamina telah menyebabkan bencana ekologis di anjungan lepas pantai Pertamina Hulu Energi (PHE) Offfshore North West Java (ONWJ).

Para pegiat lingkungan menjelaskan bahwa Tumpahan minyak tersebut telah menyebabkan munculnya gelembung gas di sekitar lokasi pantai.

Pada hari jumat lalu (2/8/2019), Sekretaris Forum Komunikasi Daerah Aliran Sungai Citarum (Forkadas) Yuda Febrian Silitonga mendesak Pertamina untuk terbuka dan menjelaskan dampak lingkungannya kepada masyarakat.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil telah mengumpulkan Bupati Karawangdan Bekasi bersama Pertamina untuk membahas insiden minyak tumpah di Laut Jawa tersebut.

Salah satu hasil dari pertemuan itu adalah penetapan tanggap darurat diberlakukan selama 2,5 bulan.

Berikut fakta-fakta lengkapnya terkait tumpahan Minyak :

1. Dua langkah atasi bencana tumpahan minyak
Gubernur Ridwan Kamil menjelaskan, ada dua langkah yang diambil untuk mengatasi bencana minyak tumpah di Karawang.

Pertama, memberlakukan tanggap darurat hingga 2,5 bulan. Bersamaan dengan itu, Pertamina telah meminta perusahaan asing untuk mematikan sumur yang bocor tersebut.
” Pertamina sudah memanggil perusahaan global yang tugasnya terbiasa mematikan sumur yang bocor dan tumpah ke laut,” ujar Emil.

Langkah kedua, memberlakukan masa recovery hingga enam bulan. Perbaikan dilakukan secara menyeluruh mulai dari dampak sosial hingga teknis. Bahkan, tim akan memeriksa kualitas ikan.

“Kedua masa recovery 2-6 bulan berikutnya tergantung kecepatan. Yang harus di-recovery ekonomi warga, sosial dampak psikologis akan kami perhatikan, seperti di Bekasimungkin tidak banyak warganya tapi pantainya terkena. Karena area yang terdampak tidak hanya garis batas Karawangtapi Bekasi,” tutur dia.

2. Pertamina akan tutup PHE ONWJ

Direktur Utama Pertamina EP Nanang Abdul Manaf menyatakan, agar kejadian tumpahan minyak di Laut Karawang tidak terulang, sumur YYA-1 di area Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) bakal ditutup.

“Pasti (ditutup) karena kami mengamankan supaya tidak ada aliran lagi. Saya kira akan lebih aman kalau kami tinggalkan,” kata Nanang di Gedung Pakuan Bandung, Jawa Barat, usai bertemu Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan sejumlah kepala daerah, Jumat (2/8/2019).

Sumur yang sudah ditinggalkan delapan tahun lalu itu awalnya akan kembali diproduksikan.

Ia menyebutkan, insiden tumpahan minyak itu terjadi lantaran ada aliran dari sumur YYA yang bocor dan mengeluarkan gelembung gas yang disertai minyak.

“Bukan semburan, kalau semburan ada tekanan. Tapi aliran, tumpahan,” katanya.

3. Aktivis desak Pertamina jelaskan dampak tumpahan minyak

Yuda menjelaskan, tumpahan minyakPertamina di Karawang akibat human erro dan mengakibatkan bencana ekologis.

“Ini human error yang berakibat pada bencana ekologis. Tumpahan minyak yang keluar bersama gelembung gas berpotensi mencemari perairan dan pesisir,” katanya, Jumat (2/8/2019).

Yuda pun meminta Pertamina terbuka terkait kebocoran pada sumur dan dampak yang saat ini tengah dialami masyarakat.

Misalnya, mulai dari kesehatan masyarakat yang terganggu, ekonomi, dan ekologis yang terjadi. Sebab, menurut Yuda, tumpahan minyak di perairan Karawang mirip insiden di Teluk Meksiko, Amerika Serikat.

“Sebab, sejauh ini penyebab, progres penanganan dan dampaknya belum maksimal. Ini tidak boleh ditutup-tutupi,” kata Yuda.

4. Ribuan jaring milik nelayan terkena tumpahan minyak

Kurang lebih 1.373 jaring nelayan Karawang terkena tumpahan minyak Pertamina di Laut Jawa.

Menurut Kepala Seksi (Kasi) Kelembagaan Nelayan Dinas Perikanan Kabupaten Karawang Setya Saptana, jaring yang terpapar tumpahan minyak rata-rata milik nelayan dengan kapal di bawah 8 Gross Ton (GT).

“Jaring yang sudah kena tumpahan minyak susah dibersihkan,” kata Setya, Senin (5/8/2019).

Saat ini, kata dia, pihaknya tengah melakukan pendataan hingga verifikasi oleh Tim Verifikasi Kompensasi bersama Pertamina.

“Jika ada nelayan yang terdampak, silakan melapor kepada Dinas Perikanan,” kata dia.

5. Mangrove dan tambak garam terkena dampak

Setya menjelaskan, sejumlah titik mangrove dan tambak garam milik warga juga terkena tumpahan minyak. Hanya saja, pihaknya belum bisa memastikan berapa luas mangrove yang terpapar.

Setya menyebut, tambak garam milik 15 kelompok petani garam di sejumlah wilayah juga terdampak. Garam-garam yang terindikasi terdampak bahkan dilakukan pegujian.

“Saat ini, masih menunggu hasil (pengujian),” kata dia.

6. Bupati Karawang minta Pertaminaberi kompensasi

Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana meminta para kepala desa yang wilayahnya terpapar tumpahan minyak mentah diminta mendata kerugian yang diderita warganya.

Data itu akan diajukan kepada pihak Pertamina sebagai klaim kerugian. Cellica sendiri berharap mata pencaharian warganya tidak terputus lantaran wilayahnya terdampak tumpahan minyak di anjungan Lepas Pantai YYA-1 area Pertamina Hulu Energi ONWJ.

Cellica pun mengaku sudah berdialog langsung dengan warga pesisir Karawang yang terdampak.

“Saya telah mendengar keluhan dari petani tambak yang bibitnya pada mati karena air tambak tercemar limbah. Sementara ada nelayan yang tidak melaut karena wilayah tangkapannya terkurung paparan minyak,” kata Cellica, Selasa (30/7/2019).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here