BERBAGI

Jakarta, matanggaran.com (09-08-2019) –  Dalam tulisannya, Bayu menceritakan perihal fakta tersembunyi di balik Kerugian Negara pada Blok BMG Australia. Terkait hal ini, matanggaran.com sudah menghubungi Media Communication Manager Pertamina, Arya Dwi Paramita, di nomor 0811xxxxxxx untuk meminta klarifikasinya, tapi hingga berita berikutnya diturunkan belum ada respon dan klarifikasi.

Hari ini, mari kita simak sebuah lampiran yang berisi Transkripsi Sidang Pemeriksaan Saksi pada hari Jumat, 8 Februari 2019 lalu.

Keterangan:

– Ketua Majelis MH: Frangki Tambuwun, S.H., M.H. (HK)
– MH Anggota I: Emilia Djajasubagia, S.H., M.H. (HK I)
– MH Anggota II: M. Idris M. Amin, S.H., M.H. (HK II)

– Penasihat Hukum I: Dr. Luhut M.P. Pangaribuan, S.H., LL.M. (PH I)
– Penasehat Hukum II: Rebecca E. Siahaan, S.H. (PH II)

– Jaksa Penuntut Umum (JPU)

– Terdakwa: Bayu Kristanto (TDW)

– Saksi:
1. Feniwati Cendana (FC)
2. Sulistyo (S)
3. Slamet Susilo (SS)
4. Genade Panjaitan (GP)

HK : “Pak Bayu sehat hari ini?”
TDW : “Sehat, Yang Mulia.”
HK : “Sidang kita lanjutkan, ya?”
TDW : “Siap.”
HK : “Ada saksi hari ini?”
JPU 1 : “Ada, Yang Mulia. Hari ini hadir Saudara Feniwati Cendana, Saudara Dr. Ahmad Subagyo, Saudara Sulistyo, dan Genade Panjaitan. Ada empat orang.”
HK : “Silakan.”
JPU 1 : “Kepada saksi dipersilakan memasuki ruang sidang.”
HK : “Nama lengkapnya siapa, Bu?”
FC : “Feniwati Cendana.”
HK : “Lahir di Bogor, 17 September 1964, jenis kelamin perempuan, kebangsaan Indonesia.”
FC : “Betul, Yang Mulia.”
HK : “Tempat tinggal, Apartemen Permata Raya, Jakarta Selatan.”
FC : “Betul, Yang Mulia.”
HK : “Agamanya?”
FC : “Kristen.”
HK : “Pekerjaannya Akuntan Publik.”
FC : “Betul, Yang Mulia.”
HK : “Pendidikan S1, ya?”
FC : “Betul, Yang Mulia.”
HK : “Kenal dengan Terdakwa?”
FC : “Tidak.”
HK : “Tidak punya hubungan darah atau pekerjaannya?”
FC : “Tidak.”
HK : “Nanti disumpah, ya.”
HK : “Nama lengkapnya siapa, Pak?”
S : “Sulistyo, Yang Mulia.”
HK : “Ir. Sulistyo, lahir di Balikpapan.”
S : “Betul, Yang Mulia.”
HK : “Tempat tinggal di Jalan Ketapang Blok C4.”
S : “Betul, Yang Mulia.”
HK : “Agamanya?”
S : “Islam.”
HK : “Pekerjaannya di PT Pertamina Persero?”
S : “Betul, Yang Mulia.”
HK : “Pendidikan S1?”
S : “Betul.”
HK : “Kenal Terdakwa?”
S : “Kenal, Yang Mulia.”
HK : “Punya hubungan keluarga?”
S : “Tidak.”
HK : “Nanti bersumpah, ya.”
S : “Iya.”
HK : “Namanya siapa, Pak?”
SS : “Slamet Susilo, Yang Mulia.”
HK : “Lahir di Bogor, 6 Mei 1965?”
SS : “Betul, Yang Mulia.”
HK : “Jenis kelamin laki-laki, kebangsaan Indonesia, ya?”
SS : “Betul.”
HK : “Alamat Jalan Buaran Blok C15, Duren Sawit.”
SS : “Betul, Yang Mulia.”
HK : “Agamanya?”
SS : “Islam.”
HK : “Bekerjanya di PT Pertamina Persero, ya?”
SS : “Betul, Yang Mulia.”
HK : “Pendidikan S1.”
SS : “Betul, Yang Mulia.”
HK : “Kenal Terdakwa?”
SS : “Kenal, Yang Mulia.”
HK : “Ada hubungan keluarga?”
SS : “Tidak ada.”
HK : “Nanti bersumpah, ya.”
SS : “Siap, Yang Mulia.”
HK : “Nama lengkapnya siapa, Pak?”
GP : “Genade Panjaitan, Yang Mulia.”
HK : “Lahir di Palembang, Sumatera Selatan, 16 November 1964.”
GP : “Betul, Yang Mulia.”
HK : “Jenis kelamin laki-laki, kebangsaan Indonesia, ya?”
GP : “Betul, Yang Mulia.”
HK : “Agamanya?”
GP : “Kristen Protestan, Yang Mulia.”
HK : “Pekerjaan Pegawai BUMN, PT Pertamina Persero.”
HK : “Pendidikan Strata 2?”
GP : “Benar, Yang Mulia.”
HK : “Kenal Terdakwa?”
GP : “Kenal.”
HK : “Ada hubungan keluarga?”
GP : “Tidak, Yang Mulia.”
HK : “Nanti berjanji atau bersumpah, ya?”
GP : “Iya.”
HK : “Bapak Sulistyo dan Bapak Slamet, silahkan berdiri.”
PH 1 : “Bapak Ketua, sebelum diteruskan, Saksi Slamet Susilo ini sama seperti saksi-saksi sebelumnya diperiksa tidak ada untuk Terdakwa ini kalau dilihat di BAP, tidak ada tertulis tersangka siapa. Jadi, ya kami minta untuk ditanyakan bagaimana itu dalam tahap penyidikan.”
HK : “Ya, nanti kami tanyakan, ya. Pak Slamet pernah diperiksa di penyidik?”
SS : “Ya, diperiksa sebagai saksi pada kasus dugaan korupsi proyek BMG, tidak menyebutkan Terdakwa siapa.”
HK : “Ya, Majelis mengambil sikap karena ini berkaitan dengan BMG, jadi Majelis Hakim nanti, keberatannya kita tolak, ya.”
PH 1 : “Baik, Bapak Ketua, kalau memang itu keputusan Majelis Hakim, tapi mohon itu jadi catatan khusus.”
HK : “Iya.”
PH 1 : “Yang kedua, kalau boleh diteruskan supaya sekalian, Ibu Fenny itu kan, akan disumpah. Kan, dulu untuk penetapan Majelis, tapi sekarang kan sudah hadir, kalau saksi tambahan kan kalau saksi-saksi sudah selesai diperiksa, baru kemudian diajukan, tapi sekarang sudah diajukan.”
HK : “Baik, begini, Majelis butuh waktu, waku Majelis tinggal sedikit, jadi Majelis mengambil sikap seperti itu, waktu kami tinggal sedikit, jadi Majelis menerimanya.”
PH 1 : “Baik kalau begitu, terima kasih.”
HK 1 : “Bismillahirrahmanirrahim…”
S & SS : “Bismillahirrahmanirrahim.”
HK 1 : “Demi Allah saya bersumpah.”
S & SS : “Demi Allah saya bersumpah.”
HK 1 : “Sebagai saksi dalam perkara ini.”
S & SS : “Sebagai saksi dalam perkara ini.”
HK 1 : “Akan memberikan keterangan yang benar.”
S & SS : “Akan memberikan keterangan yang benar.”
HK 1 : “Tidak lain daripada yang sebenarnya.”
S & SS : “Tidak lain daripada yang sebenarnya.”
HK 1 : “Oke, Ibu sama Bapak Genade silahkan maju ke depan. Saya berjanji.”
FC & GP: “Saya berjanji.”
HK 1 : “Bahwa saya.”
FC & GP: “Bahwa saya.”
HK 1 : “Sebagai saksi dalam perkara ini.”
FC & GP: “Sebagai saksi dalam perkara ini.”
HK 1 : “Akan memberikan keterangan yang benar.”
FC & GP: “Akan memberikan keterangan yang benar.”
HK 1 : “Tidak lain daripada yang sebenarnya.”
FC & GP: “Tidak lain daripada yang sebenarnya.”
HK 1 : “Semoga Tuhan menolong saya.”
FC & GP: “Semoga Tuhan menolong saya.”
HK 1 : “Baik, ini ada saksi dari akuntan publik, bagaimana, ada usulan untuk teknis pemeriksaan?”
JPU 1 : “Baik, Majelis Hakim, terima kasih, harapan kami keempat saksi ini dapat diperiksa secara bersamaan, namun jika tidak, kami mohon untuk Pak Susilo dan Pak Sulistyo disamakan karena masing-masing kuncinya sama dan saling berkaitan.”
HK 1 : “Bagaimana Tim Penasehat?”
PH 1 : “Ya, saya kira sama saja.”
HK 1 : “Baik, kalau begitu kita bagi menjadi tiga ya, kalau begitu yang mana dulu?”
JPU 1 : “Ibu Feniwati Cendana dulu, Pak.”
HK 1 : “Baik, Bapak-Bapak di luar dulu ya, baik silahkan.”
JPU 1 : “Terima kasih, Yang Mulia. Ibu Feniwati, terima kasih atas waktunya, Ibu bekerja sebagai akuntan, di mana Ibu?”
FC : “Di Ernst & Young.”
JPU 1 : “Baik, di Ernst & Young Indonesia ya, pada tahun 2010 Ibu pernah melakukan audit untuk PT PHE?”
FC : “Tidak Pak, di tahun 2009 terakhir.”
JPU 1 : “Di 2009? Ibu pernah membuat laporannya?”
FC : “Tahun 2009 itu laporan keuangan PT PHE per 31 Desember 2009.”
JPU 1 : “Nah, itu Ibu melakukannya?”
FC : “Tahun 2010.”
JPU 1 : “Nah, itu audit PT Pertamina BMG tahun 2010 pernah Bu, ya. Nah, apakah audit yang dilakukan Ernst & Young itu dituangkan dalam bentuk laporan?”
FC : “Ya, ada.”
JPU 1 : “Nomor berapa bisa ditunjukkan, Ibu?”
FC : “Laporan RBC No. 376/PSS/2011.”
JPU 1 : “Apakah dalam laporan tersebut ada perihal yang menyangkut investasi Pertamina di Blok BMG di Australi?”
FC : “Ya, ada.”
JPU 1 : “Ada, ya, Bu. Bagaimana hasil audit yang dilakukan terhadap Blok BMG tersebut?”
FC : “Pada saat kami melakukan audit, manajemen telah melakukan investment terkait investasi di Blok BMG dan telah melakukan penurunan nilai terhadap investasi Blok BMG ini.”
JPU 1 : “Berapa penurunan nilainya, Bu?”
FC : “568 miliar.”
JPU 1 : “Nah, apa yang dimaksud penurunan investasi itu, Bu?”
FC : Jadi, sesuai dengan standar akutansi di Indonesia, pada saat penyusunan laporan keuangan, manajemen harus melakukan penilaian terhadap seluruh aset, apakah terjadi penurunan nilai dan salah satunya adalah terhadap aset minyak dan gas, manajemen berpendapat bahwa nilai yang didapat itu lebih besar daripada nilai yang ada, sehingga melakukan penurunan nilai tersebut.”
JPU 1 : “Itu di mana Ibu? Itu nilai asetnya menurun?”
FC : “Sesuai yang dikatakan manajemen dalam catatan nomor 11 bahwa hal ini dikarenakan penurunan jumlah cadangan pada proyek tersebut.”
JPU 1 : “Sebelum Ibu melakukan itu, apakah Ibu mendapatkan paper dari PHE?”
FC : “Saya hanya mendapatan paper yang disiapkan oleh management, yaitu nomor 135/PHE 200/2010-SO.”
JPU 1 : “Apakah yang dimaksud assessment tadi oleh manajemen?”
FC : “Iya.”
JPU 1 : “Di dalam assessment tersebut juga disebutkan bahwa mereka mengalami penurunan nilai aset atas BMG senilai 568 milyar?”
FC : “Ini menyatakan bahwa berdasarkan kajian secara ekonomis, karena ini dalam bahasa Inggris, saya terjemahkan secara bebas. Dengan mempertimbangkan adanya arus mengenai adanya existing maupun harga gas di masa depan dan biaya operasional yang tinggi dan reserved yang ada, sehingga yang diputuskan adalah oil case-nya, NPP-nya itu adalah negatif 3,2 milyar dollar.”
JPU 1 : “Baik, yang Ibu laporkan itu PHE Indonesia atau PHE Australia?”
FC : “Ini adalah PHE Australia, Pak.”
JPU 1 : “Nah, yang Ibu tuangkan dalam laporan Ibu itu?”
FC : “Laporan kami mencakup laporan keuangan PT PHE dan anak perusahaannya.”
JPU 1 : “PHE Australia itu adalah anak perusahaan dari PHE Indonesia?”
FC : “Betul.”
JPU 1 : “Konsolidasi?”
FC : “Iya.”
JPU 2 : “Satu saja Saudara Saksi, terkait penurunan nilai itu, dicatat dalam laporan itu sebagai apa?”
FC : “Itu kan, di dalam laporan laba rugi perkonsolidasian sebagai kerugian akibat penurunan nilai aset.”
JPU 2 : “Nah, terkait dengan akuisisi itu hanya sebatas BMG atau nilai investasi secara keseluruhan?”
FC : “Ini angkanya 568 untuk Blok BMG.”
HK 1 : “Silakan.”
PH 1 : “Walaupun saya kira kurang relevan, namun ya sudah. Baik, Saudara Saksi tadi pernyataannya mengenai melakukan assessment.”
FC : “Maaf Pak, yang melakukan assessment adalah manajemen.”
PH 1 : “Oh, manajemen PHE melakukan assessment kemudian melakukan konsolidasi laporan keuangan.”
FC : “Iya.”
PH 1 : “Dan, itu yang disampaikan tadi dalam persidangan malam ini?”
FC : “Iya.”
PH 1 : “Jadi, informasi itu berdasarkan dokumen?”
FC : “Iya.”
PH 1 : “Kemudian tadi Saudara Saksi mengatakan penurunan nilai atas aset itu, artinya penurunan nilai pada tahun 2009.“
FC : “Iya.”
PH 1 : “Tahu nggak, kalau BMG ini tidak ada jangka waktunya karena sesuai dengan license yang Blok BMG ini. Jadi tidak hanya 2009, tapi bisa juga sampai itu tidak terbatas, Saudara Saksi tahu, ga?”
FC : “Tidak tahu.”
PH 1 : “Jadi saya kasih tahu, kalau itu tidak ada batasnya. Andaikata itu, jadi laporan 2009 ini, ini akan berlaku untuk 2009, tidak berlaku untuk 2010 dan tahun-tahun berikutnya. Iya, kan?”
FC : “Iya.”
PH 1 : “Jadi penurunan nilai ini hanya ketika dikonsolidasi laporan keuangan pada tahun 2009, di mana aset BMG itu nilainya turun kan, begitu karena kan sesuai dengan standar akuntansi kan begitu, jadi kalau berubah itu tahun 2010 kan harus diubah juga, kan begitu.”
FC : “Secara standar akutansi bisa dilakukan pemulihan penurunan nilai.”
PH 1 : “Sebutannya pemulihan?”
FC : “Iya.”
PH 1 : “Itu pada tahun buku yang sama atau tahun buku berikutnya?”
FC : “Karena kami menyatakan pendapat per tanggal 31 Desember 2009, jadi kalau terjadi pemulihan pun pasti di tahun setelahnya.”
PH 1 : “Setelahnya. Sama seperti disampaikan tadi kan BMG ini tidak tertentu sementara audit itu kan terikat pada pendapatnya, kan begitu kan.”
FC : “Iya.”
PH 1 : “Jadi penurunan nilai itu hanya pada tahun di mana pendapat itu dipegang dan itu pun sumbernya dari dokumen, yang dari PHE, begitu ya?”
FC : “Iya, Pak.”
PH 1 : “Buka empirik gitu kan, langsung begitu ya, melihat objeknya kan begitu kan.”
FC : “Iya.”
PH 1 : “Kemudian yang kedua tadi, saksi tadi kan mengatakan ini harus diklarifikasi, ini supaya tidak keliru karena ini kan bukan keahliannya, kan. Tadi saksi mengatakan penurunan jumlah cadangan. Ini harus diluruskan karena cadangan itu adanya di dalam tanah, jadi ga ada yang bisa mengukur cadangan yang di dalam itu, cadangan minyak dan gas yang ada di dalam Blok BMG itu. Jadi tadi ada statementnya akibat penurunan cadangan.”
FC : “Itu adalah berdasarkan laporan ataupun pernyataan manajemen di dalam laporan keuangan.”
HK : “Jadi berdasarkan laporan, ya?”
PH 1 : “Bisa ditunjukkan gak, laporannya itu yang menunjukkan pernyataan penurunan cadangan itu, karena kita yakin itu pasti keliru karena tidak ada. Ada laporannya, gak? Bisa ditunjukin, gak?”

(Saksi menunjukkan barang bukti)

PH 1 : “Jadi, apa yang ada di situ dipindahkan, ya. Baik, dari kami cukup, ada satu pertanyaan.”
PH 2 : “Sedikit, Yang Mulia, mohon izin, Ibu tadi sebagai penegasan saja, bahwa tadi impairmen yang Ibu sebutkan tadi angkanya adalah 568 milyar, tepatnya berapa rupiah, Bu?”
FC : “568.066 karena angka di laporan kami adalah dalam jutaan rupiah.”
PH 2 : “Berarti Rp568.066.000.000,00?”
FC : “Iya.”
PH 2 : “Berarti itu adalah statement Ibu pas per 31 Desember 2009?”
FC : “Iya.”
PH 2 : “Ini angkanya identik sekali dengan kerugian negara dalam perkara ini, di mana di perkara ini tuh cash call sampai tahun 2012 itu menyebabkan angka 568.066 tersebut. Itu kalau boleh tahu, cara penyusunan datanya, cara pembulatan angkanya bagaimana, kok di tahun 2009 bisa memprediksikan di tahun 2012 ada pengeluaran sekian?”
FC : “Saya tidak tahu.”
PH 2 : “Oh, jadi hanya terima data dari PHE, percaya terus di-share, gitu?”
FC : “Oh bukan, yang 2012 saya tidak tahu karena setelah tahun 2009 kantor kami tidak lagi ditugaskan sebagai auditor PHE.”
PH 2 : “Jadi saksi tidak tahu kenapa di tahun 2012 sudah ada laporan keuangan dengan angka yang sama, begitu, ya? Dalam menjalankan audit, Saksi hanya menelan mentah-mentah data dari manajemen PHE atau apakah ada kroscek lagi begitu?”
FC : “Ini karena investasinya dilakukan oleh PHE Australia, maka kami meminta untuk melakukan audit untuk PHE Australia. Jadi review dilakukan EY Australia.”
PH 2 : “Dalam dunia akuntan, ini hal yang biasa ya, bahwa di tahun 2012 Ibu sudah tahu ada pengeluaran?”
FC : “Saya tidak tahu.”
PH 2 : “Baik, cukup Yang Mulia.”
TDW : “Saudara Saksi, jadi EY itu khusus untuk 2009 saja?”
FC : “Iya.”
TDW : “Setelah itu tidak?”
FC : “Setelah tahun 2009 terjadi pergantian.”
TDW : “Tadi disampaikan menyadur dari keuangan PHE.”
FC : “Laporan keuangan memang disiapkan oleh manajemen.”
TDW : “Pertanyaannya, itu laporan keuangan bisa tidak untuk menghitung untung rugi suatu investasi?”
FC : “Tidak bisa.”
TDW : “Tidak bisa. Kemudian yang tadi disampaikan, karena sudah terjadi impairmen 2009, apakah memang seharusnya tiap tahun itu dinilai kembali impairmennya?”
FC : “Jadi menurut standar akutansi Indonesia, pada setiap tanggal neraca, manajemen harus melakukan assessment, apakah terjadi indikasi penurunan nilai, dan apabila terjadi indikasi yang sebelumnya ada, itu bisa saja terjadi pemulihan penurunan nilai.”
TDW : “Kemudian apa pendapat EY kalau kemudian impairmen itu hanya dilakukan sekali pada tahun 2009, salah atau betul pendapatnya?”
FC : “Pada setiap aset harus dilakukan.”
TDW : “Harus, jadi kalau tidak dilakukan, salah?”
FC : “Iya.”
TDW : “Kemudian, apa pendapat EY, yang dalam melakukan audit disebutkan ada biaya yang dikeluarkan pada tahun 2012, tapi disajikan manajemen PHE tahun 2009, itu masuk verifikasi EY atau diterima begitu saja?”
FC : “Saya tidak tahu yang 2012.”
TDW : “Tidak tahu 2012, tapi itu biayanya masuk dalam data yang disajikan kepada EY.”
FC : “Saya tidak tahu.”
TDW : “Kemudian yang berikutnya pertanyaan saya, yang terkait dengan kata-kata cadangan, itu kan menjadi sesuatu yang material, teknis bisnis di bawah permukaan. Apakah EY tidak memverifikasi katanya yang cadagan itu. Jadi kalau manajemen PHE mengatakan penurunan cadangan, apakah karena memang turun cadangan atau karena harga minyak yang turun ataukah masalah pemboran, apakah EY tidak memverifikasi itu, karena cadangan, ataukah karena mengatur minyaknya?”
FC : “Saya tidak dalam kapasitas menjawab itu karena pada saat penugasan ini saya berperan sebagai signing partner atau partner penandatangan, sedangkan kami bekerja secara teamwork, di mana dalam tim kami juga ada partner lain yang menjadi in charge untuk audit sehari-hari. Jadi saya tidak dalam posisi menjawab hal itu.”
TDW : “Sehingga kalau nanti itu dibuktikan salah mengatakan penurunan cadangan, EY juga ikut bertanggung jawab. Terima kasih, Yang Mulia.”
JPU 1 : “Sebelum pemeriksaan barang bukti, kami ada satu yang mau ditanyakan.”
HK : “Silakan.”
JPU 1 : “Apakah Saudara pernah mendapatkan reposition BMG?”
FC : “Yang Nomor 135 tadi, Pak.”
JPU 1 : “Ya, berikut lampirannya. Di dalam salah satu lampirannya, saksi di sini berbunyi demikian. *inaudible* Saksi pernah baca ini?”
FC : “Iya.”
JPU 1 : “Jadi saksi tahu maksudnya?”
FC : “Iya.”
JPU 1 : “Bisa dijelaskan?”
FC : “Sebelumnya kan ada pertimbangan-pertimbangan, sehingga disimpulkan seperti tadi karena ada beberapa hal yang disebutkan di atas, maka sebenarnya ada dua scenario oil case.”
JPU 1 : “Bisa Saksi jelaskan pertimbangan-pertimbangan tersebut?”
FC : “Di dalam harga gas dan biaya operasional yang tinggi, lalu existing production facilities, jadi artinya fasilitas produksi yang ada.”
JPU 1 : “Apakah fasilitas produksi itu ada?”
FC : “Sepengetahuan kami, karena untuk eksplorasi menginput kerja perlu ada tambahan.”
PH 1 : “Bapak Ketua, saya kira ini kan menanyakan surat orang ya, bukan kapasitasnya. Ini kan surat dari PHE, kan?”
JPU 1 : “Tapi, dia terima.”
PH 1 : “Iya, dia terima, tapi kalau disuruh menjelaskan surat orang kan, apakah….”
JPU 1 : “Apakah ini menjadi pertimbangan kemudian melakukan penurunan nilai itu?”
FC : “Ya, kami, scenario yang dipilih, yang dianggap realistik oleh manajemen itu yang menghasilkan NPP negatif 3,2 milyar, sehingga itu manajemen menurunkan nilai investasi itu tidak negatif, sampai nol saja.”
HK : “Bagaimana ini, kan saya kira Saksi ya, ada pendapat?”
BK : “Sebenarnya untuk impairmen itu discounted cashflow atau undiscounted cashflow?”
FC : “Saya tidak dalam kapasitas menjawab itu, Pak.”
BK : “Tidak menjawab, tapi di situ ada discounted cashflow, betul?”
FC : “Iya.”
BK : “Betul ya, jadi bukan undiscounted cashflow, ya. Jadi pertanyaanya tadi adalah, sebenarnya tidak pernah negatif, tapi di situ adalah nol, begitu saja. Jadi Yang Mulia, mohon dicatat saja seolah-olah dengan kerugian yang tidak tepat itu saya pekerja teknis dianggap bersalah dan setelah akuisisi, jadi yang kami sampaikan jadi manajemen itu memutuskan bahwa 30% saja, jadi sebenarnya ini tidak relevan. Ya, begitu saja.”
HK : “Baik, kalau begitu silakan, Bu.”

(Pemeriksaan barang bukti)

Saksi Feniwati Auditor PHE di pengadilan juga mengatakan:

1. Angka 568.066.000.000 juga dibebankan dalam laporan keuangan tahun 2009.

Bagaimana ini bisa terjadi? Biaya akuisisi padahal hanya 30 juta USD. Mengapa biaya cash call tahun 2010 sd 2012 bisa dibebankan ke dalam Laporan Rugi Laba Konsolidasi tahun 2009?

Belum dikeluarkan sudah dibebankan?

2. Feniwati juga mengatakan bahwa kalo di-impairment (penurunan nilai untuk laporan keuangan) pada tahun 2009, ya berarti harus dipulihkan.

Namun, karena tidak dipulihkan, maka PHE MENILAI aset BMG tidak ada nilainya lagi, sehingga bukan impairment, tetapi write off atau telah dihapus.

Kesimpulan: Investasi di Blok BMG telah dihapus pada tahun 2009.

Demikian yang disampaikan  Bayu Kristanto, diterima matanggaran.com di Jakarta, Jumat (02/08)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here